Pagi itu, Jam masih menunjukan pukul 03.00,
matahari pun masih enggan menampakan sinarnya. Terdengar pertanda pesan masuk dalam hp. Bak kicau burung pembawa brita yang kehilangan arah, tersirat
sebuah kabar duka dari salah seorang
kerabat,”Inalillahi, Saudara kita Akhina Fulan Telah berpulang ke rahmatullah.....”. Siapa sangka, seorang
kerabat, teman seperjuangan di perantauan, begitu cepat Allah. memanggilnya. Inna lillahi wa inna illaihi roji’un.
“Inna lillahi wa inna illaihi roji’un”,ada yang menarik dari sepenggal
kalimat yang sudah tak asing lagi di telinga kita sebagai umat islam. Kalimat
yang terucap tatkala kita tertimpa musibah atau menerima kabar duka cita
seseorang. Akan tetapi, terkadang kita lupa akan esensi dari kalimat ini atau
bahkan kini “Inna lillahi” hanya
menjadi “trend” belaka sebagai wujud dari duka cita kita. Tak bisa dipungkiri,
terkadang kita memang lupa akan esensi dari perkataan ini. Mungkin di dalam
hati kita dapat mengatakan, “Ah, saya sudah tau dan paham kok apa arti dari
perkataan Inna lillahi.” Benarkah..?
Padahal ketika dengan PD-nya kita mengatakan “tahu dan paham” akan hakikat
suatu hal, bisa jadi itu merupakan benih dari kesombongan yang ada dalam diri
kita.
Inna lillahi wa inna illaihi roji’un, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan
kepada Allah jualah kami kembali. Esensinya kita harus memahami bahwa “Kullu nafsin dzaiqotul maut”, Setiap yang bernyawa pasti akan
merasakan kematian. Kendati kita berada di balik tembok yang kokoh dan tebal,
kematian pasti akan menghampiri kita. Ibnu Qayyim menyebutkan pangkal keimanan
sebagai Al-Yaqaddhah yaitu saat kita terhenyak mengingat akhir hidup kita,
seperti apa ? Kapan ? di mana ? Dengan cara seperti apa kita dikembalikan ?
sudahkah kita siap ? Ini adalah sebuah keniscayaan karena yang dekat adalah
kemtian dan hidup ibarat sebuah perjalanan.
Komentar
Posting Komentar